Saturday, 22 July 2017

I need a little room to pray, because I'm one step closer to the edge and I'm about to break.





i wrote about depression in my previous entry. wallahi, depression can kill. please, don't say anything rubbish if you never once been there. depression means all you can see is eternal escape -- death. all the doors lead you to just think to die. hope? no, we abandoned it already. 

the past years were hard. i clearly remember how i plead for death because i was so terribly extremely tired. the feeling is like you're drowning in a deep sea. you saw nothing to hold. you saw no one to ask for help. they may think you're fooling around. they may think you're just swimming. well, that's what you think they think. however, it's still hard to reach to people around us. it's not easy to spill the depressing thought out to others even to the closest one. i don't know what we're afraid of. i have no idea why it's so hard to share the deepest feeling which killing you inside and destroyed you once you're out of balance. 

alhamdulillah for me being a muslim. islam is a deen of hope, no doubt. islam gave bilal bin rabah the feeling of being appreciated even though he's a slave. islam gave sumayyah the feeling of being protected even though she's going to be tortured to death. alhamdulillah 'ala hadzihi ni'mah. 

yes, we did feel like giving up life. we did feel like abandoning hope. we feel like leaving everything behind. but, we just can't. the iman inside us won't let us. we may be lost the fights a hundred time but, we just can't give up life. being a muslim, believing in the judgment day is a must. so, knowing the fact dunya isn't permanent, why bother dying for temporary feelings? temporary, yes. even it took me years. still, it's not permanent. akhirah is a guarantee. cutting yourself won't help you get any better. islam forbids us to take other's life (homicide) and your own life (suicide).

if depression is a monster, you need to be your own ultraman. people can help. people do care (for those who care). people can give you motivations. but the one who have to save you is you. only you. hanya kau. sirf tum. anta wahid. people can talk, but you need to do the walk. if you refuse to even get up from the monster bed, it'll kill you, minutes by minutes. it's okay if you die fighting. at least you tried. your death won't be unworthy. 



almost a year i've lived in a situation where i was down at heart and down to earth. depression killed me. until one day i met kak zura by co-incidence. and she told me what i might become if i keep drowning myself in depression. i might be crazy if i continue behaving like that. yes, i know it's not impossible because i admit i was too depressed and i lost hope. after having some talk with kak zura -- i changed. trying to embrace the pain given. and i can feel that i'm happy. i no longer lived in depression and start making peace with الله . redha is not a mere utter, i learn a lot. (( ainum, 2015 ))



i dare to say this because i've been dealing with that monster. and i survived alhamdulillah. hasbunallah wa ni'mal wakīl. no one can bring dead people back to life except for الله . i used 'dead people' because yes, we did feel like a living corpse. we're dying and nobody noticed. so, ask for الله's help. people can judge you for what you feel. and الله for sure the ultimate judge but, الله will help us. الله will bring you up. الله will give you super power to defeat the monster. الله will help you to go through the pain. in the end, along with manage to defeat the monster successfully, depression survivor will gain something more (the best of the best) -- taqarrub billah. you will feel الله's presence more. you will hold onto الله tighter than before. the depression experience will be your best tarbiyah journey. then which of الله's favor would you deny? 

if i can survive, so do you. 💚




today is terribly sad
because chester is not only artist
because linkin park is not only a band
not only a favourite one

linkin park is a company
linkin park is different
that's why the news was hard to accept

i feel like losing someone who's always beside me
and the saddest part is knowing he committed suicide due to depression


"when i'm writing, i'm constantly thinking about myself because it's the only experience i have to draw on. and i don't see an exact reflection of myself in every face in the audience, but i know that my songs have validity to them and that's why the fans are there." - chester bennington


thanks for being there when I had my hard times (and also any-time) when i was a teenager. your screaming comforted me somehow, which until now i have no idea how a scream can be such comforting. and now i'm crying listening to your songs. what have you done, man? 



you will stay in memory
chester bennington
1976 - 2017




Monday, 17 July 2017

yeay for my Ottoman collection


ahlan bik. semalam aku selamat terima parcel poslaju yang isinya adalah serpihan-serpihan kecintaan aku. kali kedua berurusan dengan Ottoman Collective sepanjang mengumpul koleksi barangan 'Uthmāniyyah. harga yang masuk akal dan itemnya memuaskan, alhamdulillah. 





ini purse lama. inilah purse yang aku guna bertahun-tahun. hadiah dari si Asma yang belajar di Jordan. aku kadang-kadang datang sifat mengada hendakkan purse perempuan yang banyak slot yang lawa yang perempuan betul tu. aku seronok order mahal pun tak apa sebab berkenan. tapi sayangnya cuma kurang seminggu - tak serasi. aku pun kasi ibu. aku pakai si unta ni sajalah. senang main letak saja (lepastu seksa belek kad satu-satu). tapi tak apalah, selesa dengan yang cinonet macam ni sebab duit pun bukan ada sangat dalam tu #sadenung #storyofmylife by the way, aku memang tak minat purse perempuan tu tapi aku sangat suka handbag 😍💚 so, #goodluckfuturehusband





nah, sudah tukar yang baru! inilah koleksi terbaru dari Ottoman Collective. original dari Turki. sulamannya kemas, kainnya sedap dipegang dan yang penting jata tu so cool *crying*. RM10 saja harganya. katanya promosi raya. ini pun dapat sebab aku bodek abang ipar. aku tolong order untuk dia sekali, maka upahnya harus diberi! #alwayslikethat #goodbrother #golddiggersister #iknowiknow #pleasedonotremindme #onceagaingoodluckfuturehusband





setakat ini saja yang mampu dikumpul. keychain tugra Sultan Muhammad al-Fatih, keychain dan pin jata Daulah 'Uthmāniyyah dan purse. sebenarnya ada lagi pin dan keychain tapi dah hadiahkan dekat Ustazah Norahida dan Ustazah Nurizan. siapa yang nak menangis kalau dapat benda ni, sememangnya obsesi pada 'Uthmāniyyah itu tinggi. sebab aku masih ingat rupa Ustazah Norahida waktu aku letak benda ni depan dia. aku macam - I know that face :)

apapun, jata Daulah 'Uthmāniyyah kelihatan sangat sempurna. terima kasih pada Tuanku Sultan 'Abdülhamit Han yang telah menyempurnakannya. terima kasih untuk "horcrux" ini yang menolong kami mengenang Tuanku dengan lebih cinta. bārakallahufīka.



berminat untuk dapatkan item-item ini?

nah, contact Encik Wan Man - 0104019664
facebook : Wanman Uthmaniyyah / Ottoman Collective




Friday, 14 July 2017

Tips istiqamah baca al-Mulk setiap malam


If you want some tips to recite al-Mulk every night before sleeping, I gladly will give you one.

disclaimer : i'm not as good as never-once-leave-alMulk but, yes am hardly trying to.



jadi, alkisahnya waktu mak (ibu mertua kakak sulung) berpindah ke sisi Allah, aku banyak termuhasabah. ya, ter. sebab bukan saja-saja nak duduk termenung atas sejadah sambil fikir dosa-dosa. tak, ia datang sendiri - waktu tu. mak meninggal hari Jumaat dengan sangat mudah. mak cuma demam, itu saja. dengan takdir anak sulungnya (abang ipar) memang sedia ada balik kampung (menetap di Kota Kinabalu). jadi, tidaklah kematian mak menyulitkan urusan anaknya untuk pulang ke Besut dengan segera. syukur. cuma anak bongsu mak saja ada di KL. tapi masih tak apa, masih dekat, masih direzekikan kesempatan waktu untuk jumpa mak masa dimandikan. dan aku pun kebetulan balik kampung dari kolej. aku masih di semester empat. 

perpindahan mak sangat memberi kesan pada aku. kami semua rapat. mak suka bercerita dan mak tempat bercerita. mak sangat nakal dan selalu dinakali aku. kalau kemana-mana yang perlukan tidur di hotel, aku yang jadi roommate mak. aku akan lompat-lompat atas katil hotel sambil mak ada di sebelah dan mak akan "holoh serupo abbas (cucu lima tahun) nih". dan favorite line mak pada aku adalah "tolol mung, anum" (kebiasaan ore kelate guna term bengong-tolol-gilo sebagai satu ekspresi mesra). yang tolol inilah yang buat mak terhibur. aku sudah sering sekali ditololi dibengongi oleh sesiapa saja, kurang pasti kenapa tsk.


mana tips al-Mulk ni?

maaflah, kalau dah menulis memang jadi nak merepek lebih-lebih. okay, back to the point. jadi, lepas kematian mak, I was inspired. I was inspired by her perfect shut down (آمين). I adore that beautiful khatimah. mak meninggal hari Jumaat, solat jenazah oleh orang-orang soleh insyaAllah. ramai gila. aku tengok perkarangan surau penuh (or is it a mosque am not sure statusnya masa tu). dekat tanah perkuburan pun ramai. yang jauh-jauh solat jenazah ghaib. it felt alive. 

so, starting from her death, I really wanted to know --
"mak, is it hurt? how it feels like when dying?"


aku takut nak tidur. rasa macam kematian tu bila-bila masa saja (baru sedar). bodohnya aku, benda dah maklum tapi aku selalu lupa. aku macam -- "what if I won't wake up in the morning?". the thought scared me to death. siapa yang tak takut untuk mati dalam keadaan kita tahu kita amal tak cukup, dosa tak terampun lagi. 

so, what is the solution?

aku nampak al-Mulk. fadhilat amalnya yang boleh membantu di alam barzakh. jadi, aku mula baca. tidaklah sebelum ni aku langsung tak baca. bukan setiap malam dibaca, tak konsisten. jadi, setiap malam aku akan bertempur dengan diri yang malas - "baca al-Mulk atau kau akan menyesal". yes, I was blackmailed by myself. or the truth is, it's a blackmail from Allah. ugutan dan amaran yang hadafnya adalah untuk membantu aku yang terlalu banyak dosa supaya di alam sana nanti - tidaklah sengsara.



Nak kenal Allah kenalah menyelami surah al-Mulk kerana surah ini menceritakan tentang Allah. Dengan ayat-ayatnya, kita berdakwah kepada manusia dengan memperkenalkan Allah kepada mereka. Ianya menceritakan tentang kehebatan Allah. Ia juga tentang alam. Allah suruh kita lihat alam ini supaya kita ingat kepada kekuasaan Allah, supaya tunduk dan akur kepada-Nya dengan penuh kehambaan. Takut untuk bermaksiat dan menderhaka kerana di hujungnya ada azab. Para sahabat r.a akan menangis ketika membaca ayat-ayat dari surah ini yang berkaitan dengan neraka berulang-ulang kali. Seolah-olah jelas sekali mereka nampak gawang api neraka dan ngaumannya dalam surah ini. Moga kolam airmata kita tidak pernah kering ketika menatap surah ini. 
(( Ustazah Wahibah Tahir ))



there is no problem with no solution. there is no question with no answer. with Allah, everything's well-scripted. tak mudah nak istiqamah beramal. tapi paksalah diri kalau sedar diri banyak dosa. nak baca al-Mulk dengan harapan semoga adalah pertolongan di alam sana. sebab tak pasti tidur kali ni boleh bangun lagi tak esok pagi. sebab kita suka tangguh taubat dengan tak-apalah-esok-ada-lagi.


untuk usaha konsisten membaca al-Mulk setiap malam, istiqamahkan bertanya pada diri sendiri setiap malam --

"what if I don't wake up tomorrow while I still don't seek for Allah's forgiveness for my infinity sins?"


panjang ya? tak sempat tangkap? okay, aku kasi pendek --

"what if I don't wake up tomorrow?"


panjang lagi? okaylah.

"what if I die?" 


dok pehe? okay okay.

"wey kalu mati kekgi gano weyyy?"



-- of course we'll die. we will die. 

the question helps a lot. and the answer is the ultimate shot. I get scared. so will you, insyaAllah. 


dear readers, may we see each other in the highest jannah -- آمين



Wednesday, 14 June 2017

It's okay, I'm scared too.



Legend of Korra, Book 1 Air, Chapter The Voice In The Night


Akan ada satu masa bila hidup memukul kita dengan kuat dan memaksa kita berlutut kalah kepadanya. Pasti, pukulan tujuannya untuk mengajar. Tapi iyalah, kita tidak akan mampu lari dari rasa terkejut dan takut andai pukulan itu merupakan pukulan yang terpedih yang kita pernah rasa atau mungkin, ia adalah pertama kali.

Pukulan yang kita terima tidak sama kerana Allah ciptakan kita dengan kisah kita sendiri. Apa yang kita lalu, mungkin saja tidak mampu dilalui orang lain. Apa yang orang lain harung, boleh jadi kita mungkin lemas di dalamnya. Kekuatan kemampuan kita tidak langsung sama

Kalau kau rasa kau sedang alami satu ancaman ujian yang sebelum ini belum pernah kau rasa atau kena, akui saja ketakutan yang kau rasa. Takut bukan bererti kita lemah dan tidak boleh bangkit melawan. Rasa takut itu fitrah. Masalahnya cuma pada apabila kita terlalu egois untuk mengakuinya dan meminta bantuan orang lain sekiranya sudah tidak mampu sendiri (tetapi sekadar berkongsi meluahkan sudah cukup mengurangkan rasa beban yang ditanggung). 

Dalam Legend of Korra, menjadi seorang Avatar (Korra) bukanlah hal yang mudah, pastinya. Untuk berkongsi beban dengan teman terdekat pun rasa berat sebab orang lain belum tentu mampu faham. dan Korra pun tidak mahu dilihat lemah sebab tidak mampu menjalankan peranannya sebagai seorang Avatar. Jadi ketakutan-ketakutan yang dipendam akhirnya dirasa semakin memuncak kerana sebelumnya dia merasa mampu dan tidak langsung takut dengan apa-apa atau sesiapa.

Ketakutan kita tidak akan hilang selagi kita tidak membenarkan kewujudannya. Like Tenzin said, admitting your fears is the first and most difficult step in overcoming them. It's okay to be scared. The more important thing is to talk about our fears because if we don't, they can throw us out of balance.




Susah, wallahi susah.
Tapi boleh. Kena lawan.




Saturday, 20 May 2017

You can be addicted to some kind of sadness.


murung. kalau ikutkan definisinya berat, apalagi untuk ditanggung. bukan sekadar perkataan yang biasa kita sebut suka-suka. murung - satu perasaan yang aku dah tak mahu rasa.


so, it feels like this.


waktu kelas subjek Fan Ilqa, ustazah Aida ajar topik Syu'ur Ijabi (perasaan positif) dan Syu'ur Salbi (perasaan negatif). kebetulan, waktu syu'ur ijabi aku tak hadir ke kelas. kelas seterusnya aku hadir dah masuk pada tajuk syu'ur salbi. jadi, syu'ur salbi merangkumi rasa marah, sedih dan takut. aku ingat part hazin (sedih), isinya adalah sedih kebiasaannya tak lama. sedih merupakan satu perasaan yang tak panjang. tapi, perasaan yang makan tempoh yang panjang adalah murung. aku pun macam *cough* mengata aku ni *cough*. tapi betullah dan patutlah. sebab depression yang aku rasa bukan sebulan dua. tapi bertahun (insyaAllah sedang dalam proses untuk sepenuhnya sembuh, doakan!). 😂

lepas tu ustazah pun, "ustazah nak kamu semua cerita hal yang paling menyedihkan yang kamu pernah rasa.". pelajar cuma tiga orang masa tu, seorang lagi absent. aku satu-satunya pelajar perempuan. alhamdulillah (aku rasa nak bersyukur walaupun bukan benda besar kalau orang tengok, tapi bagi aku besar), alhamdulillah aku boleh buka cerita tentang how vulnerable I was before. aku bagi tahu ustazah, fakta murung tu betul, sebab itu yang aku rasa untuk tempoh yang lama. ustazah angguk faham.

okay forget about me. aku nak cerita student lelaki yang lagi dua tu. so, next Amirul Syahmi cerita tentang operation if I'm not mistaken (for sure aku tak berapa pay attention sebab aku lupa ni). sebab aku lupa, jadi aku proceed kisah Firman pula. since Firman betul-betul line kerusi aku, so senang aku bagi perhatian. and his story was quite sad. hm. dia cerita tentang kematian ibu atau ayah aku lupa lagi, masa tu dia kecil lagi. balik sekolah tengok ramai orang dekat rumah. lepas tu baru tahu parent meninggal. macam drama. tapi realiti lagi sakit. 

I really love listening to this kind of topic. sebab nak selalu kena ingatkan diri sendiri apa yang orang lain rasa lagi tak mampu mata nak bayang, tak mampu bahu nak pikul. dan aku akan bersyukur dengan apa yang Allah telah limpahkan, tak kisahlah nikmat atau ujian. kalau musibah tu mampu dekatkan aku lebih lagi dengan Allah, bukankah itu kenikmatan yang besar?

and kalau perasan kawan-kawan macam pelik sikit dari biasa, cuba risik khabar. memang biasanya orang murung ni tak buka cerita, tapi tak apa, perhati dari jauh pun cukup. tolong mana yang boleh. bagi nasihat secara umum, biar sampai dia baca. dia nak orang tolong. tapi dia tak tahu nak minta macam mana. peranan kita - peka.





Sunday, 14 May 2017

"Aku tak akan datang pada kau (blog) selagi aku belum berjaya habiskan diploma." - aku, beberapa bulan yang lalu


kita mulakan dengan basmalah. 
assalamu'alaikum jami'an. 

aku di sini, ertinya? 
ya, alhamdulillah.. kholas! 😂

setahun ini adalah perjalanan yang tidak susah tapi bukan juga mudah. susahnya mungkin untuk komited hadir ke kelas tanpa sebarang absent terutamanya pada waktu pagi. setiap pagi adalah detik mujahadah paling besar sebab pada masa itulah sakit paling memuncak. sebelum lalui fight untuk ke kelas, wajib fight untuk bangkit subuh terlebih dulu. untung, solat itu wajib bagi muslim, kalau tak, aku dah tak bangun untuk ke kelas! 😟

alhamdulillah tsumma alhamdulillah. banyak sekali kenikmatan yang dirasa sepanjang tempoh penyembuhan ini. aku sangat tahu, Allah kasi ujian bukan saja-saja. cuma yalah, masa tengah sakit, rasa mahu kalah juga (memang kalah pun beberapa kali). lagi sekali aku mahu ulang quote dari kak aishah ;

setiap luka pasti akan sakit. tapi ingat, setiap luka pasti akan sembuh. 
lucu.  
mengenang bagaimana saya paling tidak tahu mengurus hati. lalu Allah uji lagi dan lagi.

aku letakkan "tidak tahu mengurus hati" sebagai "tidak redha". mungkin pada kesempatan sebelum ni (semester 5 kali kedua), aku masih lagi berkeluh-kesah dengan keadaan yang telah Allah berikan. mungkin aku belum cukup ikhlas menerima segala hal yang dah berlaku, lalu Allah tangguhkan lagi, berikan lagi kesempatan baru supaya akhirnya aku tahu untuk terima semuanya dengan selapang-lapang dada.

benda paling payah nak pass pada awalnya sebab kita belum boleh predict apa yang akan jadi. dan benda juga payah nak pass sampai akhir sebab kita rasa dah penat sangat dan rasa tak mampu nak hadap lagi dah. seriuslah, nak mula semula memang susah lepas kita dah mula berhenti. aku masih simpan tulisan yang aku tulis masa awal sem 5 hari tu ;


Aku ingat lagi waktu hari pertama minggu kuliah Julai yang lepas. Isnin dah mula kelas, Fan Ilqa dengan Ustazah Aida pada masa tu. Tak bersedia langsung nak masuk kelas. Otak belum sedia nak belajar. Emosi belum sedia nak hadap semua hal. Aku lari masuk tandas. I just couldn't control my feelings. And I couldn't stop my tears too. Because I was too afraid. I didn't know what to do. I thought of running away but, the reason why I chose to continue the journey was because of my parent. So, I couldn't go backward. And when I was in class for the first time, I tried so hard not to be upset or ended up crying. I still remembered the feelings, how vulnerable I was at that time. 
But today I told Allah Ta'ala that it would be regrettable to death if I gave up on that day. Memang tahap weh-bapaklah-rugi-kalau-aku-tak-sambung-study. Because I thought of quitting college before. Sentimental person ni ada baiknya tapi buruknya jangan dibuat remeh. Yang baiknya kita lagi senang nak immerse into anything. Tapi yang buruknya macam ni la, lead to negative thinking or worse, depression. 
And not to forget the biggest contributing factor yang buat aku "terpaksa" nak sambung belajar, Ustazah Norahida. 
I told her I'm weak.
She told me that I'm not.
I told her I was scared.
She told me not to. 
And now, here I am, writing this bedtime story for my Mirza Badi'uzzaman. So then he won't easily give up when the times come. Despite knowing that everyone has his/her own breaking points, he still needs to be strong like his mother.


it was so hard at that time, wallahi. tapi Allah mudahkan urusan, Allah tenangkan hati. alhamdulillah untuk nikmat hidup bertuhan. banyak hal yang Allah ganti. Allah ganti dengan kefahaman bahasa Arab yang lebih lagi. aku betul-betul dapat praktik bahasa Arab, tak macam dulu. lebih lagi, aku dah siapkan satu kertas projek atau aku nak sebut ia sebagai "disertasi kecil" (kasi semangat sikit!).




2012 - 2017 😎


ilmu bahasa arab dan kajian yang aku dapat ni telah buatkan aku akhirnya mengalah. aku angkat bendera putih. aku melutut dengan tangan ke langit. aku mengalah. aku akhirnya mengucapkan, "alhamdulillah atas segala musibah yang Engkau beri. ternyata ini bukan musibah tapi nikmat!". dan untung bila berurusan dengan Allah, aku memang kalah, tapi kalah dalam menang. kau fikir kau siapa. kau fikir kau raja. okay maaf aku terbawa-bawa. banyak benda dah berubah. aku dah boleh tatap muka sultan tanpa rasa pedih. aku pun dah gemuk sekarang, kalau nak state perubahan ketara.

ah, konklusinya, Allah dah berjayakan aku tamatkan diploma. syahadah (sijil) ini hadiah untuk ibu ayah tentunya, tapi ganjaran untuk aku adalah ilmu lughah dan hadharah. perjalanan yang manis untuk dikenang, masyaAllah. perjalanannya sedikit sebanyak aku telah "catat" di instagram @munawritinghood kalau sudi boleh saja follow. tapi sebaiknya dm ig terlebih dulu kasi tahu "saya pembaca blog kikiki" sebab aku tak approve semua orang. eleh acah-acah macam orang nak follow. 😪

Ya Allah, terima kasih telah buatkan aku merasa istimewa! 

yeay lepas ni boleh jumpa kau (blog) selalu! 😂

dan terima kasih untuk yang masih sudi singgah di sini setelah sekian lama. baarakallahu fiikum. 

Thursday, 12 January 2017

Sufi #3 : Matahari Darwisy


“Aku rasa aku baru tahu perasaan mabuk cinta itu bagaimana.” Ujarku sambil tangan ligat menyiapkan sarapan untuk keluarga.

“Kau sedang mabuk cinta, Arini? Pantas saja kau sering mengelamun. Lagi rindukan kekasih rupanya.” Rani memandangku dengan matanya yang bulat. Antara terkejut dan mahu mengusik. 

“Bukan aku, Sundara.” Aku membalas usikan Rani dengan menyebut namanya yang jarang disebut. Rani Sundara. Itulah nasib anak yang mempunyai ibu yang gilakan filem hindi.

Rani menjeling tajam. Siapa suruh panggil aku Arini. Tidak ada satu manusia pun yang memanggil aku Arini kecuali... ah, lupakan!

“Kau tahukan aku lagi baca buku tentang Mawlana Rumi? Tulisannya... subhanallah... terlalu sempurna terjemahan hatinya. Jelas tergambar dirinya yang mabuk cinta total!”

Rani mengambil sekeping roti bakar lalu duduk ditangga. 

“Satu hal yang aku belajar, kita tak akan mampu tulis perihal sesuatu dengan sebegitu baik kalau perasaan kita bukanlah begitu. Maksudku, kita tidak akan berupaya menulis tentang pedihnya patah hati sekiranya kita terlebih dulu tidak merasakannya, kan? Atau jika kita ditimpa penyakit kronik... mana mungkin kita boleh bercerita dengan jelas bagaimana sakitnya penyakit itu kalau kita sendiri tidak alaminya. Jadi, begitulah tulisan Rumi. Beliau bercerita tentang cinta dan kemabukan yang ada di dalamnya. Betapa menyembah Tuhan itu adalah satu ibadah yang memabukkan. Pastilah... beliau tidak akan berjaya menghasilkan karya yang begitu jelas dalam cintanya kalau beliau tidak memandang dan merasa cinta Tuhan dengan sebegitu asyik. Dan keasyikan itu cuma boleh diperoleh dengan ibadah yang sahih dan bebas dari keinginan duniawi.” Suara aku beransur perlahan di penghujung bicara. Terasa hati disentak dengan suara sendiri.

“Sufi...” Rani bersuara.

“Iya?” Aku memandangnya sambil meneruskan kerja.

“Sufi.” Rani sekali lagi menyebut namaku.

“Iya, kenapa kau Rani?” Suara aku sedikit tinggi. Tidak mengerti dengan Rani.

“Tidak. Aku maksudkan Rumi itu. Rumi itu seorang sufi. Merindui pertemuan dengan Tuhan adalah ibadah mereka. Dan kita masih lagi berkira-kira mahu mati.” 

“Dalam.” Aku berkata sepatah. Cukuplah untuk respon kepada setiap butir perkataan Rani. Makin dalam pula bicara pagi hari ini. Masing-masing mula tenggelam dalam fikiran sendiri. Sesekali kedengaran bunyi kaki ayam yang sedang menguis tanah. Inilah yang indah tentang hidup di kampung, kita dikelilingi nyawa selain manusia!

“Oh, kau tahu, aku pernah menulis di blog tentang tokoh yang aku kagumkan iaitu Aisyah binti Talhah dan aku memberikan analogi bahawa aku ialah bulan dan beliau ialah matahari. Kau tahu kenapa?”

“Kenapa?”

“Sebab cahaya bulan datang dari matahari. Jadi, begitulah kita dalam mencontohi guru. Qudwah yang kita ikut itu asalnya dari mereka dan kita cuma menunjukkan kembali. Seperti bulan terang di langit malam. Cantiknya bulan kerana cahaya matahari yang dipancarkan kepadanya. Ternyata Rumi juga memberi analogi yang sama tentang gurunya! Aku sedikit teruja sebab asal analogi itu memang asli dari otakku sewaktu menuliskannya pada Ramadhan 2012 yang lalu, bukan aku merujuk kepada tulisan-tulisan orang lain. Jadi, gila benar perasaan teruja ini bila tahu Rumi juga menulis hal yang sama.”

“Kau semakin menarik di mataku, Sufi Arini.” Rani memandangku dengan senyum yang manis. Mengada-ngada!

Aku menyambung lagi, “Rumi suka menggunakan ungkapan dan lambang yang ada hubungannya dengan cahaya. Baginya Tuhan boleh diumpamakan sebagai matahari yang terang-benderang. Al-Ghazali dalam kitab tasawufnya, Misykat Al-Anwar juga mengumpamakan Tuhan dengan “Matahari” dan manusia ialah bulan yang mendapat pantulan sinarnya. Rumi, untuk menyebut nama guru mistiknya, Syamsuddin dari Tabriz, berganti-ganti beliau menggunakan kalimat “matahari” dan “bulan”. Bila Rumi mengisahkan pertemuan dengan sahabat dan gurunya dari Tabriz itu, dalam suasana ekstasi mistis, beliau lebih sering menyebut Syamsuddin dengan “matahari”, di samping erti dari “Syamsi” itu sendiri memang matahari. Namun, yang dimaksudkan oleh Rumi adalah orang yang mencapai makrifat atau dekat dengan Tuhan. Sedangkan kalau beliau mengisahkan tentang kerinduan untuk bertemu guru dan Tuhan, Rumi lebih suka menyebut gurunya sebagai ‘bulan” yang memberi erti peribadi yang mendapat cahaya dari Tuhan. Menarik bukan?”

“Aku juga pernah membaca tulisannya tentang kehidupan di dunia yang diumpamakan dengan malam hari. Pada malam hari, yang ada ialah bulan yang sering ditutupi mendung iaitu nafsu-nafsu yang menyesatkan. Untuk melihat cahaya bulan itu, seseorang haruslah menyingkirkan mendung yang meliputi diri dan penglihatannya.” Rani menyambung teruja.

“Wah, itulah juga yang aku baca! Aku belum habis fikir... lagak apakah jiwa Rumi ini? MasyaAllah... membacanya saja aku jadi rindukan Tuhan. Tulisan seorang kekasih sememangnya paling berjaya menerobos...” Kata-kataku dihentikan oleh jeritan ibu dari ruang tamu. Aku dan Rani saling berpandangan. Ketawa meletus.

“Masuk ke hati pembaca. Dan jeritan ibu langsung masuk ke telinga kau.” Rani mula bangun untuk ke ruang tamu dengan ketawa yang masih tersisa. Aku mengangkat dulang makanan. Senyuman masih setia singgah dibibir. 


Setelah begitu lama,matahari tidak pernah bilang pada bulan,  
“kau berhutang kepadaku”. 
Lihat apa yang terjadi dengan cinta seperti ini,ia menyalakan langit! 
- Mawlana Rumi


Terima kasih, untuk engkau seorang darwisy yang ibadahmu terlalu terang sehingga jalan untukku dihala jelas ketika aku lagi teraba-raba di dalam gelap. 

Baarakallahu fiik.



Kuantan, 1 Januari 2017 | © meremuna


------------
Rujukan : 
Belajar Hidup Dari Rumi - Serpihan-serpihan Puisi Penerang Jiwa, Haidar Bagir.


Tuesday, 10 January 2017

Sufi #2 : Jika Bulan Pernah Muram


“Masuklah, Sufi. Duduk di sini ertinya merelakan diri jadi santapan nyamuk-nyamuk lapar.” Sepupu aku, Rani, tiba-tiba datang memecah lamunan. Aku sedikit kaget.

“Aduh, kau ini Rani… kasi salam dulu sebelum tegur. Untung aku masih sihat walafiat.”

“Lagi mengelamun, ya? Fikirkan siapa, dik Sufi yang manis?” Rani mengusikku nakal.

“Hish! Mengelamun apa kalau bunyi nyamuk terlalu dekat di telinga. Mahu berfikir pun tidak sempat.” Aku ketawa tawar. Dalam hati tertanya-tanya sendiri, memangnya aku lagi mengelamun tadi?

Rani mencebik. Dihirup perlahan kopi panas yang dibawa bersama.

“Mahu?” Kopi disua kepadaku.

“Terima kasih saja. Aku sudah lama tidak minum kopi.” Hm, kopi panas… pada bahagian ini pun aku belum lulus melupakan.

Rani kembali menghirup kopinya. Aroma kopi begitu kuat, bukan cuma hidung yang merasa tetapi ia berjaya menembus masuk ke dalam hati. Ah, kenapa harus kopi sekarang!

“Kenapa bulan kelihatan muram malam ini?” Monologku terhenti oleh suara Rani. Aku toleh kepadanya dan dia sedang memandang langit. Aku ikut pandang bulan yang pucat diselubungi awan.

“Mungkin bulan mahu kasi tahu yang… bulan yang cantik sempurna pun ada ketikanya kelihatan tidak sempurna.” Rani menyambung lagi. Aku tersenyum nipis.

“Aku tidak merasakan begitu, Rani. Kelihatan sempurna itu bergantung pada sesiapa yang melihat. Di mata aku, bulan masih tampak sempurna walaupun dengan rupa muramnya.”

“Okay, aku setuju. Awan tebal malam ini. Sang purnama tenggelam. Entah apa yang dibisik awan sehingga bulan muram sebegini.” Rani menyambung hirupan terakhir.

“Awan sedang lindungi bulan. Awan tidak mahu kecantikan bulan diratah mata orang. Aku rasa malam ini bulan purnama luar biasa bersinar. Oleh sebab itu awan menyelubunginya. Mungkin awan khuatir langit akan menjadi cerah dan kita tidak mampu lelapkan mata.” Belum sempat aku teruskan bicara, lenganku ditampar perlahan oleh Rani. Aku memandangnya hairan.

“Kau mahu merepek sampai ke pagi, Sufi? Jauh betul ulasan kau, ya. Sudah sampai ke bulan sana aku kira. Lekas masuk. Malam semakin dingin. Tidak elok anak dara duduk di luar rumah sekarang.”

Rani mula bangun dari duduknya. Cawan kopi dicapainya malas. Matanya masih memandang aku yang belum bersedia mahu bangun dari buaian kayu ini.

“Sufi… kau mahu aku jerit nama ibu? Nanti bukan cuma bulan yang muram malam ini tetapi juga Sufi Arini.” Rani guna taktik kasar. Hish, kalahlah kalau main nama ibu begini!

“Tetapi cerita bulan belum habis.”

“Cerita bulan tidak akan habis, Sufi. Yang penting kopi aku sudah habis.” Rani mula masuk ke rumah.

“Cerita kopi pun belum habis, Rani.” Aku menutur perlahan sambil bangun dari buaian. Sekilas aku merenung bulan sebelum masuk ke rumah dan aku terpegun…

Awan sudah pergi.


Besut, 7 Disember 2016 | © meremuna

Monday, 9 January 2017

"Let her shows her scares and wounds of life. And if you decide to go thru to be like her, gird up your loin." - Karen Pandora Butler


aku dah lama tak buka blog. aku dah lama tak menulis di ruang ni. lama tak lama, tapi cukup terasa lama bagi aku yang dah anggap blog ni macam diari. aku tak boleh. aku rasa aku tak boleh datang sini. antara sebabnya adalah entah aku tak tahulah. aku nak kata aku merajuk dengan blog - dah kenapa nak merajuk dengan benda tak hidup? tapi perasaannya begitu.

perasaannya sama macam kenapa aku tak boleh nak bercerita atau pandang lama-lama buku Sultan Abdul Hamid II. perasaannya sama macam kenapa aku tak boleh nak sembang tentang angan ke turki, uk atau perancis. perasaannya sama dengan sebab kenapa aku tak boleh datang sini.

sebab aku nampak aku. dan aku tak kenal aku. aku tak tahu mana nak cari aku. aku rasa aku bukan pandang aku. aku rasa aku bukan baca aku.

aku cuma nampak seorang perempuan yang sangat asing. wallahi. 

iyalah semalam godek blog, lepas tu terbaca semula tulisan-tulisan lama. dalam hati aku cuma mampu ucap, "siapa perempuan ni?". sebab aku tak kenal. wallahi, aku tak kenal. bukan nak hiperbola sighah mubalaghah ke apa tapi itulah apa yang dirasa.

aku perasan, cinta dan cita aku bukan hilang. tapi aku sorok di sudut hati paling dalam. aku tak boleh nak keluarkan sebab aku tak mampu nak kawal mahu dan rindu. kedudukan mereka terlalu jauh di dasar. kemas di situ sebab aku tahu aku belum capai mampu. 

tapi aku rindu.


if life is so easy.. if choice isn't so hard to make.. i would marry my own best friend even though he's super crazy.  I'm okay with crazy, by the way.

thanks, jak. you always there whenever I need you. hihi.


penting untuk adakan sesi kaunseling dengan orang yang kita rasa boleh bagi sesuatu yang membawa "comfort" pada hati kita. kadang-kadang cukup dengan, "it's okay, num. aku ada" is more than enough. Allah cukup untuk mendengar tapi dalam masa yang sama kita mahukan respon yang wujud depan mata secara zahir. apa guna hidup dengan manusia kalau tak boleh nak berkongsi apa-apa.

dan aku tahu tak ada orang pun yang boleh faham situasi aku melainkan dia pun sedang atau pernah hadap hal yang sama. aku tak cari orang untuk faham aku tapi cukup sekadar aku tahu dia ada untuk dengar dan tak lekehkan lembik aku. 

aku okay. aku okay dengan apa yang dah jadi. aku dah tenangkan diri aku. aku okay, sungguh. 

tapi aku rindu aku. 
itu saja.

i know i'm strong.
i know.

i wish.





as you look closer inside her heart you cannot but think and ponder 
on her life for she fight hard even if to lose her own
she stands as a stronger tower in her domain
many look up to her wanting to be like her but to get to where she's at today
let her shows her scares and wounds of life
and if you decide to go thru to be like her
gird up your loin. 



Sunday, 8 January 2017

Sufi #1 : Gadis di Hati Ibu


“Sepertinya ada awan mendung yang menutupi wajah cantik di hadapanku ini, kenapa ibu?” Aku mengambil tempat di sebelah ibu. Tangan aku perlahan menyapu pasir yang bertaburan sebelum melabuhkan duduk. Jeti ini semakin usang dimamah usia tetapi laut yang terbentang luas di hadapan tidak mematikan serinya.

“Tidak ada apa-apa, nak.” Ibu senyum memandangku tetapi suaranya sedikit perlahan. Aku tahu suara itu, lagi tahan sendu.

“Sufi bukan lagi anak kecil, ibu. Sudah mampu meneka permainan hati. Iya, walaupun tidak sehebat dan sepengelaman ibu. Ayuh, ceritakan saja. Bukan selalu Sufi dapat peluang pulang ke kampung untuk dengar hikayat ibu.” Aku kuis bahunya manja namun, hatiku begitu penasaran.

Ibu tersenyum lagi. Kali ini lebih ikhlas. Ibu melepaskan keluhan berat sebelum membuka suara.

“Bukan apa-apa yang penting, Sufi. Ibu cuma teringat akan seseorang.”

“Siapa ibu? Sufi kenal siapa dia?” Aku bertambah penasaran.

“Tidak. Dia bukan seseorang yang Sufi kenal. Ibu terkenangkan seorang gadis. Cantik sekali. Orangnya cerdas. Idea fikirannya selalu mengundang kagum orang banyak. Senyum dan tawanya menghiburkan hati sesiapa saja yang melihatnya. Dia bagaikan bintang yang bercahaya dengan begitu terang, sehingga hari siang pun malu kepadanya.”

Aku setia mendengar cerita ibu. Telefon bimbit siap aku setkan dalam mod senyap. Tidak mahu ada gangguan. Cerita ibu ini penting, aku tahu.

“Tetapi dia gadis yang gagap. Dia sempurna dalam segala hal kecuali kepetahan berbicara. Tidak kurang ada yang selalu mengejek dan membulinya. Tetapi dia itu lembut dan berhati baik, terima saja tanpa tahu atau tidak mahu melawan. Sampai masa dia jatuh cinta dengan seorang pemuda yang sangat mencintainya juga. Mereka bernikah. Kamu tahu, Sufi, perangainya persis Sufi bila dia lagi takut atau gementar. Dia tidak mampu bersuara apa-apa.” Ibu ketawa perlahan sambil mencubit pipiku.

“Tetapi Sufi lebih hebat kan, bu? Sufi terbisu sesaat saja. Setelah sesaat Sufi kembali…”

“Kembali jadi murai tercabut ekor?” Ibu memotong percakapanku diikuti senyuman meleret. Aku pura-pura merajuk.

“Dan sudah menjadi kebiasaan bila dia takut atau gementar ayahnya akan menepuk lembut bahunya. Sebagai tanda memberi sokongan dan kekuatan. Dan dia akan mampu bercakap setelah itu. Namun setelah bernikah, suaminya pula yang mengambil alih tugas ayahnya itu. Setia dia ada di belakang isterinya bila mana isterinya takut atau debarkan sesuatu.”

Tanpa sedar bibirku mengukir senyum. Manis dibayang. Tetapi ibu diam tidak menyambung cerita.

“Terus, bu?” Aku tidak mampu menyembunyikan rasa ingin tahu yang terlalu. Kenapa ibu permainkan perasaanku yang begitu penasaran saat ini?

“Mereka berpisah setelah itu.”

Aku bertakbir perlahan. Terkejut. Takdir sememangnya hal yang tidak dapat kita duga. Bertakbir mengenangkan betapa Allah itu akbar dalam menguruskan cerita hamba-Nya.

“Kerana apa mereka berpisah?” Aku cuba menahan getar dalam suara. Lama ibu merenung langit.

“Ibu tidak tahu, Sufi. Cuma yang ibu fikirkan, apakah saat itu tidak ada yang menepuk lembut bahunya?”

“Saat yang mana maksud ibu?” Aku sudah tidak mampu mengawal penasaran. Seperti mahu saja aku masuk ke dalam otak dan hati ibu biar aku sendiri baca ceritanya sampai habis!

“Gadis itu sudah tiada di dunia ini, Sufi. Dengan anaknya yang masih di dalam kandungan dan suaminya tidak tahu tentang anak itu.”

“Ya Allah..” Aku kehilangan kata-kata. Apakah?

“Mati itu pasti dan sudah ditentukan ajal kita bila dan di mana. Ibu bukan mahu mempersoalkan kerja Tuhan cumanya ibu terfikir, asbab kematian gadis itu… adakah kerana kebisuan yang membunuh?” Suara ibu makin perlahan.

“Bisu… kerana bahunya sudah tidak ada yang menepuk ketika dia lagi takut.” Giliran aku merenung langit. Padahal mahu menampung airmata yang mula bertakung berlumba mahu jatuh ke laut.

Jeda. Cuma lagu ombak yang berbunyi meneman sunyi.

“Tetapi sebenarnya dia ini siapa, ibu? Kenalan ibu?” Aku bertanya lagi.

Ibu kemudiannya tersenyum kemudian ketawa. Kenapa dengan ibu? Sungguh aku tidak mengerti wanita di hadapanku ini.

“Itulah… ibu ajak Sufi tonton cerita dengan ibu, Sufi tolak.” Ibu ketawa lagi.

“Ibu… jangan cakap yang semua cerita tadi cuma…” Aku mula merenung ibu geram. Ibu!

“Ya… cerita hindustan. Thapki Pyaar Ki. Esok kita tengok sama-sama, ya. Esok episod menarik sebab Sankar jahat kurung Thapki dalam balang pasir.” Ibu bertutur selamba sambil bangun dari duduknya. Aku kebingungan.

“Ibu… apa yang ibu lakukan ke Sufi ini jahat.” Aku mula mengulang ayat Cinta dalam Ada Apa Dengan Cinta.

“Maafkan saya, Cinta. Tetapi Cinta harusnya tahu di sebalik jahatnya perbuatan saya ini, ada pengajaran yang perlu Cinta belajar.” Kata ibu lalu dia teruskan perjalanan pulang ke rumah.

Jeda. Sekali lagi ombak meneman sunyi. Kali ini disertai dengan bunyi tapak kaki ibu.

Aku senyum memandang wanita cantik di hadapanku ini. Airmata kubiar jatuh bebas ke laut. Aduhai, ibu… nakal tetapi geliga. Ayah, ayah sangat beruntung.

Eh, Sufi juga!



Besut, 6 Disember 2016 | © meremuna